Imam Al Ghazali, menasehati, “Ketika mendengar seruan mu’adzin maka hadirkanlah di dalam hati tentang dahsyatnya seruan hari kiamat dan bersegeralah dengan lahir dan batin untuk segera memenuhinya, karena orangorang yang bersegera memenuhi seruan ini adalah orang-orang yang dipanggil dengan penuh lemah lembut pada hari “pagelaran akbarâ€.
Arahkan hati kepada seruan ini. Jika kita mendapatkannya penuh kegembiraan dan kesenangan, penuh dengan keinginan untuk memulainya maka ketahuilah bahwa akan datang kepadamu seruan berita gembira dan kemenangan pada hari pengadilan.†( Sa’id Hawwa dalam Mensucikan Jiwa ) Ketika berjalan menuju tempat , disunnahkan berdo’a : “Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hati, lidah, pendengaran dan pandanganku, serta jadikanlah cahaya di belakang, depan, atas dan bawahku. Berikanlah cahaya itu padaku†(HR. Muslim).
Bacaan-bacaan dalam adzan menggambarkan, sebuah pemberitaan atas keagungan Allah, segala puji hanya milik Allah yang Agung (takbir), melalui wasilah risalah Rasul kita menuju kepada-Nya. Apabila segala persiapan batin telah terpenuhi, bersegeralah menuju perjumpaan (hayya ‘ala shalah), marilah menuju kemenangan yang hakiki (hayya ‘ala al falah). Kemudian kembali ke ruh Illahi bahwa segalanya hanya karena keagungan Allah (takbir) semata, karena manusia tidak punya keberdayaan diri. Dialah Allah Yang Maha Awal dan Maha Akhir (tahlil). Dalam Iqomah, sekali lagi melalui pengulangan-pengulangan atas keagungan Allah, serta memperkuat permintaan syafaat dan tawasul, ketika sampai disini, maka Qad qomatish shalah ( telah ditegakkan). Proses ini dilalui dengan mengumpulkan semua kekuatan yang tersebar di berbagai arah dan menjadikannya sebagai penyempurna untuk menuju Allah.
You must be logged in to post a comment.
Ya… semua itu benar. Ketika itu… aq mengalaminya.